PAHLAWAN TANPA KATA

Oleh : Lusiana Rachmawaty,
Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPW PKS Jawa Barat

PAHLAWAN, kata itu menjadi sesuatu yang sakral ketika setiap tahun kita memperingatinya di tanggal 10 Nopember.  Mungkin banyak diantara kita tidak mengetahui secara pasti, kenapa hari tersebut ditetapkan sebagai hari Pahlawan.  Hari Pahlawan ini sendiri ditetapkan oleh Presiden Soekarno dalam sebuah Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 desember 1959.   Menurut sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, seperti dikutip dari laman Liputan6.com tahun 2019.  Bahwa KEPPRES tersebut dikeluarkan  “berkaitan dengan pertempuran 10 November,”.  Yang kemudian ditetapkan tanggal 10 nopember sebagai hari Nasional yaitu hari Pahlawan dan bukan hari libur.

Perjuangan heroik seluruh rakyat Surabaya saat itu, menunjukkan pada kita semua bahwa rakyat Surabaya tampil menjadi pahlawan.    Setelah sebelumnya para wanita dan anak-anak diungsikan di tempat aman, tinggalah para laki-laki dewasa, para suami dan para Ayah turut berjuang.

Kurang lebih 6000 rakyat Surabaya gugur, itu artinya banyak para Ayah, suami dan laki-laki dewasan yang gugur.  Bahkan seorang Soetomo (Bung Tomo) inisiator dari pergerakan perlawanan rakyat tersebut yang hendak melamar Sulistina pun menunda maksudnya karena perjuangan yang sedang dilakukannya.

Ya, Suami dari seorang istri, Ayah dari anak-anak, laki-laki dewasa yang sudah cukup usia, selalu menjadi terdepan dalam setiap perjuangan.  Baik itu perjuangan menghidupi anak dan istri, perjuangan terhadap orangtua dan keluarga besarnya, perjuangan di tempat pekerjaannya, perjuangan di lingkungannya, perjuangan di masyarakatnya secara luas.  Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh mereka.  Bahkan ketika Negara memanggil, siapapun para lelaki yang sudah cukup usia, berkeluarga atau tidak, mereka yang diprioritaskan untuk maju membela Negara.  Sementara para istri, para ibu dan anak-anak dijaga keamanannya oleh mereka.

Asal kata Pahlawan itu sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Sedangkan menurut KBBI pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani;   Itu artinya bahwa siapapun dia bisa disebut sebagai “Pahlawan”.

Allah dengan memberi keistimewaan kepada para lelaki untuk tampil menjadi pejuang, karena Allah memang mempersiapkan mereka menjadi para pejuang.  Ketebalan kulit laki-laki yang dengan gumpalan otot dibawahnya adalah sebuah pertanda bahwa akan banyak  “pekerjaan kasar”  yang siap mereka emban.   Amanah untuk melindungi anak, istri, bela tanah air berada di pundak mereka.   Para Ayah, para Suami dengan segala keistimewaannya tampil menjadi pahlawan bagi istri dan Anak-anaknya.  Walau terkadang fisik mereka pun mempengaruhi kepada tata cara mereka bicara dan bertindak yang seringkali kurang dipahami oleh anak-anak dan isitrinya, akhirnya mereka  kurang melihat bahwa para Ayah adalah “Pahlawan sesungguhnya”.  Bahkan mungkin sekedar ucapan “Trimakasih” dari anak dan istri pun jarang mereka terima.  Padahal apa yang mereka lakukan sebagai pemimpin keluarga akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.

“Kullukumm Roin wakullukum Mash’ulun Anroiyatihi, warrojulu rooin ‘alaa ahlihi wahuwa masulun” – setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggugjawaban atas kepemimpinannya.

Anak-anak belajar tentang harga diri, ketegasan dan keberanian dari Ayah mereka.  Terkadang pengorbanan, kasihsayang dan cinta mereka tidak keluar dalam bentuk kata.  Kesedihan mereka tertelan dalam diam, kemarahannya kadang membara membuat seisi rumah ketakutan.  Bahkan sang istri memandang ketakutan, karena sosok suami seolah tak bisa dilawan atau diajak berteman.

Berbeda dengan para Istri, para ibu, mereka sesungguhnya adalah pendamping para pejuang.  Seorang istri, seorang ibu, berjuang dengan cara mereka.   Allah menciptakan secara fisik kehalusan kulit mereka dengan gumpalan lemak dibawahnya, adalah sebuah pertanda bahwa Allah sudah mempersiapkan mereka menjadi penghangat bagi anak-anaknya.   Dengan gumpalan lemak di bawah kulitnya, memungkinkan seorang Ibu melindungi anaknya dari kedinginan udara dari kerapuhan hangatnya kasihsayang.   Dan bahkan perlindungan saat mereka didalam kandungan.   Begitu istimewanya seorang perempuan, sampai kemudian Allah memberikan hadiah dalam qur’an dengan mengabadikannya dalam nama-nama surat, Annisa, Maryam, Mumtahanah.   Berbeda dengan laki-laki, pengorbanan dan kasihsayang para Istri sering teruntai dalam kata.  Kemarahannya keluar dalam rentetan kata, kesedihannya terlihat dalam derai air mata.  Namun, tak putus kesabaran dalam kehamilan, tak putus berjuang dalam melahirkan.   Bahkan kekhawatiran dan kasihsayangnya terkadang menghalangi kreativitas anak-anaknya dengan memanjakan berlebihan.

Itulah keunikan mereka, dua makhluk berlawanan jenis yang Allah ciptakan.  Irama dunia akan menjadi lebih berwarna ketika mereka berada dalam satu atap dengan kehalalan yang Allah Ridhoi.  Mengisi romantisme dengan menjalankan semua amanah dan peran.  Saling mengisi peran, bekerjasama dalam kebaikan.  Berjuang mengatasi setiap letupan konflik yang pasti akan selalu ada mengiringi perjalanan rumah tangga.   Mengasah kesabaran, meningkatkan keikhlasan, menebalkan keridhoan.

  • Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan  …”(iman syahid hassan Al-banna)
  • Jelas sekali bahwasanya rumah tangga yang aman damai ialah gabungan di antara tegapnya laki-laki dan halusnya perempuan (Buya Hamka)
  • Panggilan ‘ayah’ dari anak-anak, ketika si buruh pulang dari pekerjaannya, adalah ubat duka dari dampratan majikan di kantor. Suara ‘ayah’ dari anak-anak yang berdiri di pintu, itulah yang menyebabkan telinga menjadi tebal, walaupun gaji kecil. Suara ‘ayah’ dari anak-anak, itulah urat tunggang dan pucuk bulat bagi peripenghidupan manusia. (Buya Hamka)

Mereka, para Suami dan Istri, para Ayah dan Ibu yang seringkali lupa saling berterimakasih atas pengorbanan masing-masing.  Atau bahkan anak dan keturunannya pun seringkali lupa untuk mengucapkan terimakasih atas berbagai pengorbanan yang telah Ayah,Ibu mereka berikan.

Bung Tomo juga adalah seorang suami, seorang Ayah yang menunda cintanya demi cita-cita bela negara.    Sulitinah juga adalah seorang istri, seorang Ibu yang harus menahan rindu melepas suami pergi berjuang.  Memberi penguatan kepada putra putrinya tentang peran Ayah mereka. Maka, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti dalam generasi kita, akan tiba saatnya para ayah, anak lelaki dewasa, pergi berjuang secara fisik.  Seperti Atikah shohibiyah Rasulullah SAW yang harus kehilangan suami dan putra-putranya pergi membela agamanya. 

Mereka semua, para pahlawan, terlahir dari Ayah dan Ibu yang hebat, karena merekalah “Pahlawan yang Sesungguhnya”.

Selamat Hari Pahlawan, maksimalkan peran, jaga harmonisasi, manaje setiap konflik sebagai energy untuk perbaikan, saling meningkatkan iman agar mampu menjaga irama kehidupan yang Allah amanahkan.

Cikarang, 10 Nopember 2020

Syasha Lusiana