Mulailah Dengan Memaafkan

Oleh : Lusiana Rachmawaty, BPKK DPW PKS Jawa Barat

“ Saya ingin berpisah” “ Sudah berapa lama anda berumahtangga?” “tigapuluh enam tahun” “Sudah sekian lama anda ingin berpisah?” “Sebetulnya sudah dari tahun ke tiga pernikahan saya ingin berpisah dengannya” “ Masalah terbesarnya apa?” “sejak dulu, Suami saya tukang selingkuh berkali-kali selingkuh di depan mata saya “ “Kenapa tidak dari dulu anda meminta cerai kepadanya?” “Saya tidak punya siapa-siapa lagi, saya juga tidak bekerja, saya cuma bisa menggantungkan hidup padanya, tapi sekarang anak-anak sudah menikah semua, saya sudah punya kekuatan, saya tinggal mengikuti salah satu anak saya”

“Yang membuat saya berselingkuh awalnya dari kekecewaan pada istri, dia durhaka kepada ibu dan keluarga saya”  “anda kan kepala keluarga, kenapa tidak anda nasehati dia”  “Sudah, dia tidak berubah”  “Durhaka seperti apa yang anda maksud, bisa anda deskripsikan?”   “ Ya begitulah durhaka, jarang mau diajak menjenguk ibu dengan alasan pekerjaan lah…apa lah, dia juga egois, keras kepala”   “Karena dia durhaka, jadi Bapak menselingkuhi dia? Kenapa tidak menceraikannya sejak dulu, kan durhaka….”    “Soal selingkuh mah ya kebetulah ada reuni….saya dengar perempuan itu sudah menjanda beberapa kali, dia curhat ke saya, saya juga sedang kesal sama istri, ya sudahlah seperti karunia Illahi….”

Setiap Pasangan Suami Istri dalam kehidupan rumahtangganya tidak selalu berjalan harmonis, ada saja masa-masa yang diwarnai ketidaknyamanan atau bahkan mungkin ada pasangan yang prilakunya sampai menyakitkan.   Kejadian itu biasanya membekas dan mewarnai kehidupan rumahtangga selanjutnya.   Apabila mereka berhasil mengatasi maka mereka akan melangkah ke jenjang pernikahan berikutnya yang lebih kokoh dan lebih dewasa, namun apabila mereka tidak mampu mengatasi maka akan terjadi keruntuhan bangunan perlahan-lahan.   Apalagi bila masing-masing merasa bertemu dengan oranglain di luar sana yang menurut mereka bisa menampung aspirasi permasalahan, maka permasalahan akan menjadi bertambah rumit, alih-alih selesai malah juga akan semakin membesar, kehadiran PIL atau WIL yang dianggap solusi justru menambah rumitnya permasalahan.

Suami istri harusnya sadar bahwa kegagalan dalam memanaje konflik akan berimbas buruk yang pertama tentu pada anak-anak mereka, ke dua kepada keluarga besar, ke tiga kepada masyarakat secara umum.   Kesadaran ini penting agar pasangan mampu memanaje setiap permasalahan dengan kepala dingin, masing-masing harus bisa duduk bersama menyelesaikan permasalahan, padamkan segera api sebelum membesar, karena bila sudah membesar akan sangat sulit memadamkannya.   

Obatilah bersama sebelum harus menghadap dokter apalagi ke meja operasi, tidak ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan, namun pertanyaannya adalah seberapa besar keinginan anda untuk menyelesaikannya, pertanyaan ini menjadi penting karena seberapa besar keinginan anda untuk menyelasaikannya maka sebesar itu pula keberhasilannya.  Namun apabila keinginan anda sudah tidak ingin menyesaikan dan bahkan cenderung membiarkan dengan harapan akan padam dengan sendirinya, itu berarti anda siap hidup dalam bara terus menerus, yang panasnya mengisi ruang-ruang rumahtangga, letupan-letupannya menyakitkan badan, asapnya pun tidak berhenti menyesakkan dada.

Saya jadi ingat catatan bapak Cahyadi Takariawan pakar sekaligus konsultan keluarga tentang PSYCHOLOGICAL TIME, dalam catatan beliau itu dikatakan bahwa kebahagiaan dan kepedihan sangat terkait dengan bagaimana menusia mensikapi psychological time yang dimilikinya.  Lebih lanjut beliau mengatakan, waktu dalam bentuk “Clock time” memang berjalan lurus ke dapan tanpa pernah menoleh ke belakang, pun tidak ada yang sanggup menghentikannya.  Namun, psychological time ia bergerak leluasa maju dan mundur tergantung seberapa kuat pikiran berkuasa dalam kehidupan seseorang.   Orang yang terlalu banyak masalah dalam hidupnya, cenderung memiliki pikiran yang melompat-lompat. Ketika melompat ke masa lalu, ia bertemu sejumlah “hantu” bernama “kekecewaan”, penyesalan, kenangan buruk, marah yang tak berkesudahan, benci yang tak terobati.   Di saat melompat ke masa depan, ia bertemu sahabat yang bernama visi, harapan, cita-cita, tujuan, namun juga masih menemukan sebentuk kekhawatiran, ketakutan, serta ketidakpastian.  Lompatan maju mundur itu bisa menyebabkan hidup di masa kini jadi lenyap, keceriaan hilang di telan waktu, tanpa sisa.

Dengan memahami konteks itu, kita bisa mengerti mengapa banyak orang gagal memaafkan pasangan yang pernah melakukan kesalahan.   Ketidak mampuan untuk memaafkan lebih banyak disebabkan oleh pemanfaatan psychological time secara tidak arif.  Manusia acap kali berkunjung ke masa lampau, hanya untuk melihat kesalahan atau keburukan yang pernah dilakukan pasangan.   Hal ini membuat dirinya mengeliminasi jutaan kebaikan yang pernah dilakukan pasangan.  Tidak heran, banyak orang mendadak jadi “ahli sejarah” saat ditanyakan kesalahan apa yang dilakukan pasangan dengan mudah ia menyodorkan “daftar dosa” pasangan sejak awal menikah.  Detail, lengkap dengan lampiran krologis waktu, tempat dan kejadian.   Namun, ketika diminta menyebutkan kebaikan pasangan, tiba-tiba dirinya mengidap amnesia, tidak mampu mengingat dan menyebutkannya.    Karena terlalu sering menggunakan psychological time untuk melongok ke masa lalu memelototi kesalahan dan keurangan pasangan, yang didapatkannya adalah kesedihan yang berlebihan.  Semakin sering menengok masa lalu itu, semakin terasa sakit.   Celakanya, saat ia melompat ke masa depan, yang lebih sering dijumpai adalah ketidakpastian.  Apa jaminannya bahwa ia tidak mengulangi kesalahan yang sama?  

Sekarang kita paham, mengapa banyak orang merasa letih dan lelah dalam menjalani hidup berumah tangga. Banyak orang merasa terlalu letih untuk memaafkan pasangan. Karena psychological time berlompatan ke belakang dan ke depan hanya untuk menjumpai sahabat-sahabat kegelapan. Mengapa banyak manusia lebih memilih untuk mengngok kegelapan di masa lalu dan ketidakpastian di masa depan? Padahal itu yang membuat hidup berumahtangga diwarnai kekecewaan, kemarahan dan kepedihan. Karena kuasa pemikidan dan perasaan yang lebih sering membangun persahabatan dengan kesalahan dan kekurangan pasangan. Marah, kecewa, dendam, benci, emosi, itu yang selalu didapatkan.

Mereka yang datang ke ruang konseling dengan membawa sahabat-sahabat kegelapan ini selalu didera stress dan depresi tingkat tinggi. Ingin membalas dendam dangan tidak menyakiti pasangan.  Ditambah nasehat sesaat para supporter yang ada di sekitar mereka : “ Betapa bodoh dirimu mau dihkhianati pasanganmu, balas saja dengan mengkhianati berkali-kali”.   Nasehat itu semakin mengobarkan api kesumat permusuhan.

Akhirnya mereka gagal memaafkan diri sendiri, gagal memasaafkan pasangan.  Keinginan terbesarnya adalah membalas  sakit hati.  Benci dan dendam berkelindan, menguasai rongga jiwa.  Andai saja mereka bisa memanfaatkan psychological time dengan bijaksana.  Jenguklah masa awal pernikahan terdahulu.  Betapa bahagia dan mesra bersama pasangan tercinta.  Menengok masa-masa romantic, menemukan momentum istimewa, bersama pasangan tercinta.  Hari-hari yang selalu indnah ceria.  Bahagia semuanya.   Tengok selalu sisi kebaikan dan kelebihan pasangan.  Itu yang melegakan, itu yang menentramkan, jangan mau berteman dengan kekesalan.

Andai saja mereka melompat ke masa depan hanya untuk menjumpai sahabat yang bernama penerimaan dan harapan. Selalu ada harapan kebaikan. Karena kesalahan yang membuat seseorang menjadi semakin saleh, lebih bermakna dibanding kebaikan yang membuatnya semakin sombong dan angkuh. Kemampuan memanfaatkan psychological time dengan bijaksana seperti ini hanya terjadi dengan satu persayratan : Forgiveness. Ya, forgiveness! Mereka selalu protes : mengapa saya harus memaafkan pasangan? Dan saya selalu menjawab : mengapa anda tidak memaafkan pasangan?

Pada kenyataannya mereka menolak memaafkan pasangan, secara tidak sadar mereka tengah menghukum diri mereka sendiri. Makin lama makin menyakitkan. Itu sebabnya mengapa makin lama “masa penghukuman” itu terjadi, akan semakin terasa menyakitkan bagi mereka sendiri. Saya melihat mereka yang gagal memaafkan pasangan ini gigih mengecat ruang jiwa mereka dengan warna hitam, serba hitam, gelap pekat. Tak ada cahaya. Seperti rumah yang semua ruangannya dicat warna hitam. Terasa gelap dan sesak. Maka saya berikan cat putih dan kuas kepada mereka “Pulang, dan cat ulang ruang jiwa anda dengan warna putih” serba putih… bersih. Saat esok hari mereka datang lagi, saya tanyakan : “Adakah kamu merasakan hal yang berbeda?”

Ruang itu tetap sama luasnya tidak berubah oleh karena perubahan cat. Namun perasaan penghuni ruang itu yang berbeda. Merasa damai, lapang dan lega. Itulah kekuatan forgiveness. (Cahyadi Takariawan dalam sebuah perjalanan, Halim perdana Kusuma, 13 april 2017)

​Merenungi tulisan beliau mengingatkan kepada kita semua, para pasangan suami istri untuk terus memperbaiki kualitas rumah tangga, karena dia berjalan turun naik asal tidak terjadi turbulensi, semoga kita semua menjadi pasangan-pasangan yang dijaga Allah untuk menjadi pasangan Syurga-Nya.

Cikarang, 080517