CINTA YANG TAK PERNAH SAKIT

Oleh : Lusiana Rachmawaty, BPKK DPW PKS Jawa Barat

Apa yang anda rasakan ketika mengetahui pasangan anda terkena penyakit yang cukup serius dan membutuhkan perawatan cukup panjang, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, bahkan bisa jadi sisa pernikahan anda dihabiskan dengan merawatnya. Tentu bermacam reaksinya, yang pasti kekhawatiran pastilah akan menggelayuti dalam setiap perasaan pasangan, apalagi bila penyakit itu berproses membuat perubahan secara perlahan pada fisik si sakit.   Beberapa  teman bertutur  “ Hal yang paling menyedihkan adalah ketika melihat perubahan suami secara fisik, perlahan-lahan dia makin kurus, padahal dari awal nikahpun aku tidak pernah melihatnya kurus, awal2 serasa tidur dengan orang asing, kalau kurus karena sehat sih ga masalah, tapi kan ini kurus karena sakit…….”     “ awal divonis dia sakit, bayangan saya sudah macam-macam, harus siap menjanda dan mencari kerja…..”     “ begitu banyak perubahan hidup yang saya jalani dan saya mulai membiasakannya karena ini memerlukan perjalanan panjang, saya bukan orang yang pandai merawat orang sakit, namun sekarang istri sakit, mau tidak mau saya harus bisa marawatnya sekaligus saya juga harus bisa mengurus anak”  teman yang lain mengatakan “ dua tahun pengalaman mengurus istri, menguras energi kesabaran dan keikhlasan, rasanya belum tuntas… saat akhirnya Allah memanggilnya”   ya…. begitulah saat pasangan kita mengalami sakit, jangankan sakit yang menahun , sakit yang hanya sesaat saja seringkali menimbulkan kekhawatiran.  Dari mulai kekhawatiran yang ringan, sampai kekhawatiran yang berat.   

Khawatir, cemas, kasihan, peduli adalah bentuk perhatian pada pasangan yang dilandasi cinta dan kasihsayang.   Diawali dengan kalimah syahadat yang membuat pasangan berada dalam satu ikatan hati yang bernama pernikahan, apapun yang terjadi atas pasangan tentu akan menjadi tanggungan bersama.  Harapan yang seringkali adalah tidak terjadi sesuatu apapun yang berarti dalam perjalanan rumah tangga, namun ketika sang Kholik berkehendak lain tentu sebagai pasangan dan pendamping hidup tidak bisa berdiam diri.    Tidak sedikit kisah para suami atau istri yang menjadi pendamping pasangannya yang sakit dan mampu melampaui semua itu dengan baik.   

Kisah suami istri yang mendampingi pasangannya yang sakit bisa kita lihat dalam kisah Nabi Ayyub yang sakit berkepanjangan, penyakit kulit menular serta menimbulkan aroma menyengat bagi siapa saja yang mendekatinya tidak kuat menahan baunya, istri yang telah menjadi pendamping hidup dalam pernikahan delapan puluh tahun lamanya (tafsir ibnu katsir) hanya satu-satunya yang mendampingi dan melayani padahal  seluruh penduduk sekitar menghindarinya, bahkan istrinya sempat dihasut iblis untuk menjauhi nabi Ayyub sehingga Nabi Ayyub murka dan berjanji apabila sembuh akan mencabuk istrinya 100 kali, walaupun setelah sembuh beliau tidak tega untuk melaksanakan janjinya tersebut, sampai akhirnya Allah menurunkan perintah untuk melaksanakan janjinya, perintah ini kemudian Allah abadikan dalam firman-Nya

Al-Quran Surat Shaad ayat 41-44 yang artinya, “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan” (Allah berfirman). “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), setelah itu pukullah  dengan ikatan rumput itu kepada istrimu agar kamu tidak melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)”

18 tahun sakit yang dialami nabi ayyub bukanlah sakit waktu yang sebentar, tentu dibutuhkan ketegaran yang luar biasa tidak hanya bagi nabi Ayyub sendiri namun juga bagi istri sebagai pendampingnya.

Apa yang harus dilakukan saat pernikahan dilanda kenyataan bahwa suami atau istri mengalami sakit berkepanjangan dan membutuhkan pendampingan serta perawatan:

Pertama, Banyaklah berempati

Berempati dengan mengingat dan masa-masa sehat bersamanya, karena biasanya orang sakit jauh lebih emosional dan meminta perhatian serta pelayanan lebih, ingatlah bahwa masa sehatnya jauh lebih banyak dibandingkan waktu sakitnya, sama halnya dengan banyak mengingat kebaikannya dibandingkan keburukannya, begitu banyak kebaikan yang telah diberikan pasangan dalam kehidupan, begitu banyak kebahagiaan yang membersamai, kebahagiaan itu diciptakan oleh hati kita, ketika hati bahagia maka semua akan terlihat membahagiakan.

Ingatkah kisah Umar bin Khattab ketika didapati tengah dimarahi istrinya, umar hanya diam saja, karena Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga terhindar dari perbuatan tercela dan caci maki tak terpuji.  Imam ibnu Jauziyah mengatakan “ Aku bersyukur atas kelebihannya kenapa aku tidak bersabar atas kekurangannya”.     Atau juga istri nabi ayyub yang tetap bertahan dengan setia mendampingi walaupun sakitnya nabi ayyub sedemikian mengerikannya.   

Menderita sakit itu memang penuh ketidak nyamanan, tidak bisa melakukan aktivitas kehidupan  secara normal, lebih sensitive,sedih, sehingga butuh dukungan mental dan spiritual untuk menguatkannya.  Banyak pasangan yang tidak mampu menghadapi kondisi seperti ini yang akhirnya memutuskan meninggalkan pasangan yang sakit, atau bahkan memperlakukannya seperti ada namun tiada yang tentu saja akan sangat berpengaruh buruk pada kehidupan berkeluarga selanjutnya.  Saling mengingatkan dan menasehati adalah bagian dari upaya berempati terhadap pasangan.  Berlapang dada dalam memberi nasehat, berbesar jiwa dalam menerimanya.

Ke dua, saling menjaga Ruhiyah

Ini sangat penting dilakukan oleh kedua belah pihak agar memaknai sakit ini sebagai berkah dan anugrah bukti tanda kasih sayang Allah kepada kita “ Dan sungguh akan kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (QS.2:155) dengan melenyapkan sebagiannya seperti sakit berkepanjangan, kematian orang-orang terdekat (tafsir ibnu katsir).  Sudah jelas dalam ayat tersebut hendaknya setiap orang bersabar, baik si sakit maupun yang merawat si sakit, tidak berkeluh kesah apalagi berputus asa, karena janji Allah sudah pasti Allah akan beri pahala bagi yang bersabar dan allah berikan siksa bagi mereka yang berputus asa.  Inilah pentingnya menjaga ruhiyah dan meningkatkan kualitas kedekatan kepada Allah SWT.  Menghidupkan suasana ibadah yang lebih khusyu di rumah, sholat berjamaah, tilawah qur’an, menghidupkan qiyamul lail, dan ibadah-ibadah lain yang mampu membangun dan menjaga ruhiyah.   Hidup tak lagi lama….mengekalkan pernikahan sampai ke ujung perjalanan hidup adalah sebuah keniscayaan.

Ketiga, Mengokohkan Keluarga

Bila pasangan sakit, dia juga adalah ayah atau ibu dari anak-anak, dukungan dari semua keluarga, keluarga besar maupun kaluarga inti akan menjadi obat tersendiri bagi yang sakit.   Keluarga, terutama keluarga inti dalam hal ini anak-anak perlu dipahamkan akan kondisi yang terjadi pada ayah atau ibu mereka, buat mereka memaklumi bahkan tetap menghargai sebagaimana saat kondisi mereka masih sehat.  Perhatian, ketulusan dan kasih sayang akan sangat mensupport kejiwaanya, dan akan membantu si sakit untuk tidak meratapi sakitnya, bahkan dia akan tetap semangat dan tidak kehilangan jati dirinya.   

Terutama ayah yang menjadi tulang punggung keluarga, pada saat sakit merasa tidak berdaya bahkan mungkin bertambah kesedihannya karena tanggungjawab menafkahi keluarga berpindah kepada sang ibu, harga diri yang jatuh, perasaan bersalah pada istri, perasaan tidak akan lagi dihargai anak istri, biasanya sangat memicu emosi sang ayah, disinilah butuh kebijakan, kebesaran hati pasangan bahwa sekalipun sakit, seorang kepala keluarga tidak jatuh wibawa, tetap mendapatkan penghormatan dan kasih sayang dari istri dan anak-anaknya.  Bila istri yang sakit, biasanya kekhawatiran berbasis perasaan seringkali melandanya, merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa melayani kebutuhan biologis suami yang masih sehat, ketakutan suami berpaling ke lain hati, merasa diabaikan, ini biasanya menambah penyakit yang lain, yaitu secara kejiwaan.    

Inilah pentingnya semua berperan aktif untuk menciptakan suasana yang kondusif, ayah atau ibu bekerjasama dengan seluruh anggota keluarga untuk menciptakan suasana aman, nyaman dan menentramkan, bahwa sakitnya salah satu orangtua mereka bukanlah perkara yang harus dibesar-besarkan.     Justru sakit yang dialami oleh salahsatu orangtua mereka bisa menjadi perekat erat keluarga yang mungkin saat sehat tidak terlalu merekat kuat.

Ingatkah anda dengan kisah pak suyatno yang sudah menikah lebih dari 30th dengan istrinya dan secara tiba-tiba saat istrinya sudah melahirkan anak ke 4 lumpuh total sampai tidak bisa bicara, dengan penuh kasih sayang pak suyatno merawatnya dan sudah 25 tahun ini dia merawat istrinya. Usianya tak lagi muda sehingga anak2nya merasa kasihan dan menawarkan untuk menikah lagi, tapi apa jawabannya : “ Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun, coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Ketika ditanya apa yang menyebabkan beliau bertahan merawat istri sedemikian lama, maka jawaban beliau : “jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit “

Penulis  pun teringat sekitar tahun 80-an pernulis pernah diajak ayah menjenguk seorang ibu muda yang sakit kanker tulang, seluruh tubuhnya lumpuh, anak-anaknya dua orang, saat itu yang paling besar baru kelas dua SD, yang membuat penulis terpana saat itu adalah kesetiaan suaminya dalam merawatnya, mewudhukannya, menggendong dan menyuapi dengan penuh kesabaran, dan dia ajari anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk belajar merawat ibunya, mereka pasangan muda yang masih terlihat kecantikan istrinya dan suaminya yang masih terlihat ketampanannya, sungguh suami yang luar biasa, padahal kalau dia mau, dia masih muda dan masih punya banyak kesempatan.

Sakit,, sehat, semua adalah dari Allah yang perlu disikapi secara bijak, harta kekayaan masih bisa dicari, namun akan menjadi tidak berarti bila kesehatan tidak memadai.   Tidak ada sakit yang tidak ada obatnya, karena obat sesungguhnya ada pada hati dan jiwa-jiwa yang mengelilinginya.

= Syasha Lusiana =

“kisah diambil dari beberapa artikel tentang sakit”

tafsir Ibnu Katsir jilid pertama