Webinar ke II BPKK : Tantangan Konselor Menjawab Kegelisahan di Masa Pandemi

Persiapan menuju webinar telah dilaksanakan, kondisi pandemi yang tiada henti membuat rapat pun hanya berjalan secara online.   Beberapa persiapan dibicarakan, termasuk mencari nara         sumber.   Berhubung ini adalah webinar lanjutan, maka nara sumber harus orang yang sama, yaitu Ustad Cahyadi Takariawan.

“Beliau itu Ustad multi talenta, jadwalnya padat hampir setiap saat,apalagi kondisi pandemi, melakukan daring dengan berbagi tempat dan lembaga”  begitu penulis kabarkan kepada teman-teman.   Belum lagi kesibukannya bertambah di masa pandemi ini dengan membuat kelas menulis buku solo, kelas Emak-emak Punya Karya, dan BBPK (Bapak-bapak punya karya), serta kelas-kelas menulis lainnya.

Beliau sudah melahirkan begitu banyak buku, dimulai dari buku bertema dakwah, sampai buku keluarga.  Walaupun sekarang spesialisasi beliau adalah di permasalahan keluarga.  Dibuktikan dengan mendapat penghargaan sebagai Pegiat Ketahanan Keluarga dari Gubernur DIY setahun yang lalu.

Kami berbagi tugas, dan akhirnya terhubung dengan pengatur jadwal narsum dan kami mendapatkan tanggal yang disesuaikan dengan tanggal kosongnya, yaitu ahad 22 nopember 2020.

Webinar ini diangkat dari berbagai permasalahan keluarga yang ada di setiap daerah di Jawa Barat selama masa Pandemi ini.   Dengan tersebarnya RKI (Rumah keluarga Indonesia) di seluruh Jawa Barat yang ada di setiap BPKK DPD,  setiap Kader yang tergabung didalamnya adalah juga berfungsi sebagai Konselor keluarga.   Dan tentu sebagai Konselor yang tidak dilatarbekalangi  disiplin ilmu dari psikologi,maka selalu dibutuhkan peningkatan kualitas konselor melalui berbagai webinar. 

Seperti halnya webinar pertama, dengan acuan dari berbagai pertanyaan yang muncul dari RKI-RKI daerah seputar permasalahan keluarga yang mereka hadapi, maka didapatkan sebuah tema “Konselor Menjawab Kegelisahan di Masa Pandemi”.

Persiapan dibalik layar dengan terus menerus melakukan konsolidasi di akhir pertemuan adalah sebagai upaya agar acara ini tidak mengecewakan.

Pak Cah mengirimkan materi yang diawali dengan membicarakan tentang kondisi saat ini, dimana kestabilan keluarga, kestabilan social sangat terasa guncangannya. Sehingga menimbulkan krisis kehidupan manusia.   Tentu manusia tidak siap menghadapi semua dan reaksi dari mereka pun beragam :

  1.  Ada yang kaget, menolak bahkan penolakan dilakukan dengan membuat berbagai pernyataan-pernyataan yang justru menimbulkan gejolak lainnya di masyarakat.   Seperti dengan membuat pernyataan bahwa virus ini adalah suatu kesengajaan yang direkayasa secara mendunia.     Respon pertama manusia menghadapi krisis, biasanya adalah denial (Elisabeth Kübler-Ross, The 5 Stages of Grief, 1969)
  2. Tekanan keadaan.  Hilangnya kebebasa, terbatasnya kegiatan, Terlebih bagi masyarakat yang rumahnya sangat sempit, sangat banyak privasi hilang akibat semua anggota keluarga berkumpul Bersama

Family Stress, Resources and Coping by H. McCubbin and J. Patterson, St. Paul, Minn.: Department of Family Social Science, 1981

  • Family technostress adalah stres yang dialami anggota keluarga karena perangkap techno-cocoon, dimana suami, istri dan anak-anak “terbungkus” dalam kepompong teknologi, sibuk dan menghabiskan waktu dengan teknologinya, terisolasi dan tidak berkomunikasi secara langsung dengan pasangan maupun anggota keluarga lainnya.

Mungkin bermaksud mencari hiburan di masa karantina, namun terperangkap techno-cocoon.

Weil, M. M., Rosen, L. D.: A Study of Technological Sophistication and Technophobia in University Students from 23 Countries, 1997

  • Kebahagiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga, salah satunya dibentuk oleh keseimbangan antara togetherness dan separateness antara suami dan istri.

Relasi yang sehat antara suami dan istri harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara separateness dan togetherness.

Dayton, B.I, Campbell, R., Kurokawa, Y., Separateness and Togetherness: Interdependence Over the Life Course in Japanese and American Marriages, 1996.

  • Terganggunya Homeostatis, Homeostatis keluarga adalah kecenderungan suatu keluarga untuk memelihara keadaan ekuilibrium dinamik, dan melakukan upaya-upaya untuk memulihkan ekuilibrium ini ketika terganggu. Kim H, Rose KM., Concept Analysis of Family Homeostasis, 2014

Saat ini kita sedang dalam kondisi krisis yang menimbulkan kegelisahan secara ekstrim.  Pada kondisi seperti ini banyak orang membutuhkan bantuan untuk mampu menghadapi situasi.  Disinilah peran konselor untuk memberikan konseling.  Konseling di masa krisis adalah merupakan pelayanan bantuan kepada klien yang sedang mengalami krisis untuk memahami berbagai sumber energy potensial yang ada dalam diri dan sekitarnya sehingga dimanfaatkan untuk pemecahan masalah.

Seorang Konselor hendaknya memahami teknik-teknik konseling terutama konseling di masa krisis.  Karena pada dasarnya semua orang memiliki masalah atau situasi krisis.  Pada situasi seperti ini ia memerlukan orang lain untuk didengarkan, dimengerti dan diakui orang lain.

Setiap konseling, melalui beberapa proses konseling :

  1. Intervensi Langsung
  2. Apabila kondisi krisis dinilai dapat berakibat membahayakan jiwa maka intervensi langsung harus dilakukan secepatnya

Contoh : seseorang akan melakukan bunuh diri

  • Harus dilakukan intervensi langsung
  • Perhatian
  • Look – konselor hadir, bertemu langsung
  • Listen – dengarkan, perhatikan
  • Link – rujuk kepada pihak ahli / professional, jika memerlukan tindak lanjut
  • Relaksasi

Bagian-bagian tubuh yang harus digerakkan selama melaksanakan relaksasi

  • Bagian kepala; mata, pipi, dahi, mulut, bibir, hidung, lidah dan rahang,
  • Leher, bahu
  • Lengan bawah dan lengan atas, siku
  • Pergelangan tangan, tangan dan jari-jari
  • Dada, perut
  • Tulang belakang, punggung, pinggang dan pantat
  • Paha, lutut dan betis
  • Pergelangan kaki, kaki dan jari-jari

Haryanto, S. 2002. Psikologi Shalat: Kajian Aspek-aspek Psikologis Ibadah Shalat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  • Tindakan
  • Mencegah Kerusakan
  • Membangun Harapan Masa Depan yang Positif 
  • Memberikan Makna Positif pada Setiap Kejadian
  • Memberi Dukungan
  • Membangun Harga Diri
  • Menanamkan Rasa Percaya Diri

Pandemi berpeluang besar untuk menimbulkan stress, depresi karena tidak ada kepastian.  Situasi seperti ini menimbulkan berbagai masalah psikologis, diantaranya ketakutan akut dan perceraian.

Bahkan, situasi krisis aktif bisa terlihat dari sikap yang mudah panic, penurunan efisiensi.  Krisis itu sifatnya tidak terduga, tidak pasti akan ancaman terhadap tujuan-tujuan penting.

Krisis terjadi karena manusia adalah makhluk social yang berhadapan dengan masalah yang tidak terpecahkan.  Dengan situasi seperti ini tentu dibutuhkan kehadiran konseling.

Konseling itu sendiri banyak ragamnya tergantung dari masalah itu sendiri.

Bapak Haru Suandaru selaku ketua DPW PKS Jabar menegaskan saat sambutan di awal acara, bahwa pada dasarnya semua orang adalah Konselor.   Istri Konselor Suami, atau sebaliknya, orangtua konselor bagi anak-anaknya.  Untuk itu, saling menasehati diantara anggota keluarga adalah sebuah keniscayaan. 

Nahnu Duat Qobla Kulli Syaiin, kita ini adalah da’I sebelum yang lainnya. Jadilah kita da’I yang selalu  mampu mendengar curahan hati Ummat.

Setelah pemateri selesai kemudian dilanjutkan tanya jawab.  Begitu banyak pertanyaan beragam seputar klien-klien yang mereka hadapi yang kemudian dijawab dengan lugas oleh pemateri.

Panitia akhirnya bisa bernafas lega karena acara telah usai.  Sungguh suatu kebanggaan ketika mampu menunaikan amanah yang diemban.

Trimakasih pak Cah selaku narsum, ustad Haru yang berkenan memberikan pengarhargaan dan teh Sari selaku ketua BPKK DPW PKS Jabar.