Pengguna Pinjol Tertinggi, Haru : Perubahan Ekonomi Harus Dilakukan

Bandung, KBRN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat masyarakat Jawa Barat merupakan pengguna pinjaman online (pinjol) tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data per bulan September 2023, di Jawa Barat sendiri terdapat total hutang pinjol sebesar Rp. 15,80 triliun atau tumbuh sebesar 39,44 persen dari tahun lalu, dengan jumlah penerima pinjaman sebanyak 5,71 juta rekening.

Dari tingginya peningkatan borrower di Pinjaman Online di Jabar, menurut data OJK, Kaum Milenial dengan rentan usia 19-34 tahun mendominasi pinjaman online dengan besaran 55 persen secara nasional dan di ikuti rentan usia 35-54 tahun yang mencapai 40 persen dengan tujuan peminjaman terbesar untuk kebutuhan konsumtif sebesar 62,3 persen dari total pembiayaan dan 37,7 persen lainnya untuk kebutuhan produktif.

Menyikapi hal tersebut, Anggota DPRD Jawa Barat, Haru Suandharu (Kang Haru) mengatakan bahwa hal tersebut terjadi akibat warga yang terlilit faktor ekonomi, dampak dari minimnya lapangan pekerjaan.

“Saya kira itu seperti lingkaran setan. jadi upah kecil, akhirnya tidak terima, lalu PHK. sedangkan di PHK itu kan hidup harus jalan terus, nyari kerjaan susah, akhirnya pinjol. pinjol terus untuk membayarkan hutang nya susah. nanti berikutnya itu kalau kita gak bisa menahan itu angka kriminalitas meningkat. angka bunuh diri juga meningkat,” ungkap Kang Haru (18/12/2023).

Maka dari itu, Kang Haru menegaskan bahwa ditengah maraknya kasus pinjol, peran pemerintah dibutuhkan untuk mengontrol angka lonjakan pinjol yang hingga kini terus meroket.

“Jadi ini kita harus cegah, kalau diibaratkan kanker itu sudah stadium 4. jadi harus ada langkah strategis dari pemerintah.”

“Pertama harus di cek pinjol itu apakah sudah memenuhi prinsip-prinsip otoritas jasa keuangan atau tidak. yang kedua ini kan sebetulnya seperti bank emok kalau di masyarakat, jadi harus diperangi, diberantas. karena kan bunga berbunga, jadi riba kan jatuhnya, ngga akan berkah,” tegasnya.

Kang Haru pun memaparkan dampak dari pinjol apabila dibiarkan berlarut-berlarut.

“Jadi luar biasa ini dampaknya, orang kalau sudah punya hutang itu akan bisa dikendalikan, dalam konteks personal bahkan konteks nasional. kalau sudah terlalu banyak hutang itu dia tidak akan bisa merdeka, jadi penjajahan hari ini itu adalah hutang,” tutupnya.