Lampu di Dapur, Sayur di Pekarangan — Sudahkah Kita Benar-benar Merdeka?
Coba berhitung sejenak. Berapa banyak yang ada di meja makan kita hari ini yang benar-benar berasal dari tanah di sekitar kita?
Beras dari gudang bulog yang harganya mengikuti cuaca di Vietnam. Cabai yang melonjak ketika kekeringan melanda Jawa Tengah. Minyak goreng yang bergolak mengikuti pasar komoditas global. Bahkan garam — yang harusnya mudah didapat di negeri kepulauan ini — kadang langka dan mahal.
Kita hidup di tanah yang subur, tapi ketergantungan kita pada rantai pasokan yang panjang sudah sedemikian dalam sehingga satu guncangan kecil di luar negeri bisa langsung terasa di dapur kita. Ini bukan salah siapa-siapa, tapi membiarkannya tanpa upaya apapun — itu adalah pilihan.
Dan pilihan itu bisa kita ubah. Mulai dari pekarangan rumah kita sendiri.
Nabi Muhammad Saw bersabda,
فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh manusia, hewan atau burung kecuali hal itu merupakan shadaqah untuknya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 1552)
Kemudian dalam hadits lainnya, Rasulullah Saw. menyampaikan: “Apabila Hari Kiamat tiba dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum berdiri, hendaklah ia menanamnya.”
Bayangkan — bahkan di ambang Hari Kiamat sekalipun, Nabi menganjurkan kita untuk menanam. Ini bukan sekadar soal pertanian. Ini soal mentalitas seorang mukmin: tetap bergerak, tetap memberi manfaat, tidak menyerah pada keadaan.
Untuk itu, bertepatapan dengan hari lahir Partai Keadilan Sejahtera, yang juga merupakan Hari Kebangkitan Nasional, yakni pada 20 Mei 2026, PKS Jawa Barat akan meluncurkan “Milad Berdaya”.
Seratus delapan belas tahun lalu, kebangkitan itu dimulai bukan dari istana, tapi dari kesadaran. Dari sekelompok orang yang memutuskan bahwa ketergantungan bukan takdir — dan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil yang terorganisir.
Hari ini, PKS Jawa Barat mengambil semangat yang sama. Memang bukan seperti obat berbahan ibuprofen yang dapat menghilangkan masalah seketika. Namun, kami memulainya dari yang menurut kami paling terjangkau. Mulai dari demplot sayuran di pekarangan, kolam ikan sederhana, dan kesadaran mengelola energi dengan bijak.
Sebagaimana yang disampaikan oleh ketua DPW PKS Jawa Barat, Abah Iwan Suryawan, yang menjelaskan bahwa pilihan memulai dari hal-hal kecil ini bukan keterbatasan — tapi justru kekuatan.
“Kita tidak sedang membangun proyek besar, tapi sedang membangun kebiasaan. Demplot sayuran di kantor DPW bukan pameran — ia adalah ruang belajar yang terbuka untuk semua kader. Siapa yang melihatnya, bisa langsung bertanya: bagaimana caranya? Berapa biayanya? Bisa saya terapkan di rumah?” ujarnya.
Ini bukan hal baru dalam sejarah Islam. Umar bin Khathab — dalam kapasitasnya sebagai khalifah — turun langsung menanam dengan tangannya sendiri, sambil mengingatkan para sahabatnya untuk tidak menunggu kondisi sempurna. Menunggu adalah jebakan yang sudah diingatkan sejak lama.
Dari Pekarangan Satu Keluarga, ke Ketahanan Seluruh Jawa Barat
PKS Berdaya bergerak di tiga area yang bisa langsung dirasakan.
Yang pertama adalah gerakan pangan berbasis pekarangan. Tidak perlu lahan luas. Tidak perlu modal besar. Dengan polybag, pot bekas, atau pipa paralon, siapa pun bisa menanam bayam, kangkung, cabai, atau tomat di teras rumahnya. Mulai dari satu jenis sayuran yang paling sering dibeli keluarga. Lima hingga sepuluh polybag sudah cukup untuk memulai. Bagikan hasilnya ke tetangga — karena ini bukan hanya soal pangan, tapi soal membangun hubungan sosial yang sehat.
Jika satu keluarga kader bisa memenuhi 20 hingga 30 persen kebutuhan sayurannya sendiri, bayangkan dampaknya jika ribuan keluarga kader PKS di seluruh Jawa Barat melakukan hal yang sama.
Yang kedua adalah kolam ikan sederhana untuk protein keluarga. Kolam terpal ukuran 2×3 meter sudah cukup untuk memelihara 200 hingga 300 ekor ikan lele atau nila. Dalam 60 hingga 90 hari, hasilnya sudah bisa dipanen. Air bekas kolam pun bisa langsung digunakan menyiram tanaman. Satu investasi kecil yang terus berputar manfaatnya.
Yang ketiga dimulai dari kesadaran mengelola energi. Matikan lampu yang tidak perlu. Cabut charger yang sudah tidak dipakai. Langkah kecil ini nyata dampaknya — dan dari sini, kader yang ingin melangkah lebih jauh bisa mulai mempelajari panel surya sederhana untuk kebutuhan rumah tangga.
Pulang ke rumah hari ini, coba lihat pekaranganmu.
Adakah sudut kecil yang bisa ditanami? Adakah ember bekas yang bisa dijadikan pot? Adakah keluarga kader di sekitarmu yang mau memulai bersama?
Rasulullah ﷺ menganjurkan menanam bahkan di hari terakhir dunia. Kita — yang masih punya hari-hari panjang di depan, yang masih hidup di tanah Jawa Barat yang subur — seharusnya tidak punya alasan untuk menunda.
20 Mei bukan hanya hari peringatan. Ia adalah undangan.
PKS Berdaya. Mulai dari yang ada. Untuk yang akan datang.
Artikel Terkait
-
Abdul Hadi Wijaya : Fasilitas RSUD Provinsi Al Ihsan Sangat Manusiawi
Perubahan fasilitas dan infrastruktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al-ihsan Kabupaten Bandung menjadikan rumah sakit milik Pemprov Jabar ini...
-
Tekan BOR Yang Tinggi, Heri Koswara Usulkan Hotel untuk Pemulihan Pasien Covid19
Aleg DPRD Provinsi Jawa Barat, yang juga merupakan Ketua DPD PKS kota Bekasi mengusulkan agar hotel-hotel di kota...
-
Abah Iwan: Kokohkan Barisan, Tingkatkan Pelayanan, Raih Kemenangan untuk Masyarakat Jawa Barat
PKS Jabar Siap Jalankan Empat Misi Besar Pasca Rakernas 2025 Jakarta — Bagi PKS, kemenangan sejati bukan soal...
12 November 202574LikesBy Noor Hafidz