Anak-anak di Jabar Belum Benar-Benar Aman — di Rumah, di Sekolah, Apalagi di Dunia Digital
Bandung — Hari Anak Nasional 2026 hadir dengan tema yang menohok: “Anak Terlindungi, Indonesia Maju.” Di balik tema itu tersimpan pertanyaan yang tidak mudah dijawab — sudahkah Jawa Barat benar-benar menjadi tempat yang aman dan membahagiakan bagi anak-anaknya? Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, Siti Muntamah yang akrab disapa Umi Oded, menjawabnya dengan jujur: belum sepenuhnya. Itulah yang mendorongnya untuk terus bergerak.
“Setiap kali turun menyapa warga di berbagai sudut kota maupun pelosok desa di Jawa Barat, ada satu momen yang selalu berhasil menghentikan langkah saya: tatapan mata dan senyum tulus anak-anak kita. Di mata mereka yang jernih, saya melihat harapan yang membuncah. Namun di saat yang sama, dada ini sering kali berdesir ragu: sudahkah tanah Pasundan yang kita cintai ini benar-benar menjadi tempat yang aman dan membahagiakan bagi mereka?“ ujarnya .
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Jawa Barat mencatat angka kekerasan terhadap anak yang masih memprihatinkan — belum lagi ancaman perundungan di sekolah, paparan konten berbahaya di dunia digital, hingga tekanan psikologis yang dialami anak-anak di lingkungan rumah. Di tengah era banjir informasi dan media sosial, anak-anak Jawa Barat tumbuh di medan yang jauh lebih kompleks dari generasi sebelumnya.
Umi Oded menegaskan bahwa benteng pertama perlindungan anak dimulai dari rumah — dan dari ibu yang tidak berhenti menguatkan diri. Orang tua harus hadir utuh untuk anak — bukan sekadar memberikan gadget agar mereka tenang, melainkan duduk mendampingi, mendengarkan, dan memeluk mereka — adalah komitmen yang tidak bisa digantikan kebijakan apapun.
“Anak yang kuat lahir dari ibu dan orang tua yang tak berhenti menguatkan diri. Jika kita sebagai orang tua gagap dan enggan belajar, anak-anak akan mencari arahan di tempat lain yang mungkin merusak masa depannya,“ tegasnya.
Dari rumah yang kuat, ketahanan keluarga dibangun di atas tiga pondasi: spiritual, emosional, dan intelektual. Cinta pada Allah, rumah tanpa kekerasan, dan perhatian pada gizi dengan harta halal merupakan fondasi yang melahirkan keluarga berdaya: keluarga yang tidak hanya mampu menyelamatkan anggotanya sendiri, tapi juga menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya.
“Kurikulum kehidupan yang paling hakiki sejatinya diajarkan di meja makan dan ruang tamu rumah kita, yang kita mengisinya dengan penanaman cinta kepada Allah dan akhlak mulia sejak dini, membangun iklim rumah yang ramah tanpa kekerasan verbal maupun fisik, serta mengawal gizi dan pendidikan dengan rezeki yang halal, “ kata Umi Oded.
Namun perlindungan anak tidak berhenti di pintu rumah. Umi Oded menegaskan ada tiga ruang yang harus dijaga kokoh — dan ketiganya sama pentingnya.
Yang pertama adalah rumah itu sendiri. Bagi Umi Oded, rumah harus menjadi tempat paling aman untuk bersandar — bukan tempat yang pertama kali melukai.
“Mari kita ganti kemarahan dengan dialog yang membimbing, tidak boleh ada lagi anak yang pulang ke rumah justru membawa luka dari bentakan atau pengabaian orang tuanya sendiri,“ ujarnya.
Yang kedua adalah sekolah dan lingkungan. Umi Oded menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi anak Jawa Barat yang takut pergi sekolah karena diolok-olok temannya. Perundungan dan diskriminasi bukan kenakalan biasa — ia meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dari yang terlihat, dan seringkali tidak pernah benar-benar sembuh tanpa penanganan yang tepat.
Yang ketiga — dan inilah yang paling mendesak hari ini — adalah dunia digital. Menurutnya, di era ketika anak-anak lebih mudah mengakses internet daripada menemukan teman bermain di halaman rumah, pengawasan digital bukan pilihan — ia adalah kewajiban.
“Kita harus mendampingi jemari mereka saat berselancar di dunia maya, melindungi mereka dari bahaya pornografi, judi online, dan kejahatan siber yang makin mengintai,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi 5 DPRD Jawa Barat yang membidangi pendidikan, Umi Oded berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan dan anggaran yang memihak pada perlindungan anak. Tapi ia juga sadar bahwa kebijakan saja tidak cukup.
“Perjuangan ini membutuhkan tangan-tangan hangat Anda semua — para pegiat, kader perempuan, dan para tokoh masyarakat di tingkat RT, RW, hingga kecamatan. Pekerjaan menjaga anak-anak ini adalah investasi peradaban,“ pungkasnya.
Artikel ini disarikan dari refleksi Hj. Siti Muntamah Oded, M.AP., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PKS, dalam rangka Hari Anak Nasional 2026.
Artikel Terkait
-
DPC PKS Pondokgede Gowes Keliling Kecamatan Sambil Kenalkan Lambang Orange PKS
DPC PKS Pondokgede melakukan agenda gowes keliling kecamatan sambil kenalkan logo baru Partai Keadilan Sejahtera. Hal ini dilakukan dalam...
-
Iwan Suryawan Membuka Agenda Pelatihan Kepanduan Jawa Barat
Kamis, 23 Juni 2022, Bidang Kepanduan dan Olahraga DPW PKS Jabar mengadakan pelatihan relawan pandu keadilan tingkat Jawa...
-
Haru Suandharu, “Semoga Budaya Ilmiah Pesantren Bisa Masuk ke Ruang Publik”
Ini adalah kali kelima Bidang Pembinaan Umat (BPU) DPW PKS Jawa Barat bekerja sama dengan Fraksi DPW PKS...