Bencana Datang Tanpa Jadwal, PKS Jabar Tingkatkan Keterampilan Para Relawan
Bandung — Indonesia adalah negeri yang akrab dengan bencana dan di antara semua provinsi yang menanggung beban itu, Jawa Barat termasuk yang paling sering diuji. Banjir, longsor, cuaca ekstrem — datang silih berganti, kadang bersamaan. Nyatanya, ketika bencana itu harus datang, yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan, namun juga kehadiran. Di sinilah yang PKS pilih, bersama para pihak berwenang, hadir, bukan hanya bagi masyarakat, melainkan sebagai wujud semangat melayani.
“Politik itu ajang memilih pemimpin dan sebagai partai politik, sudah semestinya melakukan pendidikan politik. Di PKS, kami punya keyakinan yang sudah lama kami pegang: sayyidul qaumi khadimuhum — pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka. Momen terjadinya bencana alam bagi kami adalah medan ujiannya, di mana pemimpin harus memikul tuntutan yang begitu besar, sementara urusan memperbaiki dalam proses perjalanan,” ujar Ketua DPW PKS Jawa Barat, Iwan Suryawan, yang akrab disapa Abah Iwan, dalam pembukaan Pelatihan Relawan PKS (RPKS) di Sumedang, Kamis (11/9/2026).
Data BPBD Jawa Barat mencatat, dalam dua bulan pertama 2026 saja, 84 kejadian bencana menerjang Jawa Barat — menewaskan 80 orang dan berdampak pada lebih dari 167 ribu jiwa, tersebar di 362 kecamatan. Gubernur Jawa Barat bahkan menetapkan Status Siaga Darurat Bencana sejak September 2025 hingga April 2026 — sebuah pengakuan resmi bahwa ancaman ini bukan musiman, tapi menetap.

Abah Iwan menegaskan, walau PKS organisasi politik, PKS mempersiapkan relawan yang dipersiapkan bukan yang datang untuk sekadar hadir, melainkan juga bisa meringakan beban. Karena itu, ada bekal-bekal wawasan dan peningkatan keterampilan.
“Relawan kang kami siapkan adalah mereka yang hadir karena panggilan, yang terlatih, yang siap secara mental dan fisik, dan yang memahami bahwa melayani itu kadang melelahkan, kadang tidak nyaman, tapi di sana-lah maknanya,” ujar Abah Iwan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat.
Ketua Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPW PKS Jawa Barat, Bambang Yulianto, menjelaskan bahwa kerelawanan yang sesungguhnya menuntut lebih dari sekadar semangat.

“Kerelawanan itu bukan soal niat yang baik saja. Di lapangan bencana, niat yang baik tanpa bekal yang memadai bisa justru menambah masalah. Karena itu kami melatih — membekali dengan manajemen bencana, pertolongan pertama, komunikasi darurat, hingga kesiapan psikologis. Supaya ketika mereka datang, mereka benar-benar bisa membantu,” jelasnya.
Bambang menegaskan bahwa sistem yang dibangun ini bukan hanya untuk merespons bencana yang sudah terjadi — tapi untuk memastikan PKS Jawa Barat selalu siap sebelum bencana berikutnya datang.
“Pengiriman relawan ke NTT beberapa waktu lalu bukan kebetulan. Itu hasil dari sistem yang kami bangun — dari pelatihan, dari kesiapan SDM, dari jaringan yang terkonsolidasi. Ketika bencana datang, kami tidak perlu memulai dari nol,” pungkasnya.
Pelatihan Relawan PKS (RPKS) ini diinisiasi oleh Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPW PKS Jawa Barat dan berlangsung selama tiga hari, 11–13 September 2026, di Sumedang. Jumlah peserta 81 orang yang merupakan utusan dari korda kebencanaan BKBN DPD se-Jawa Barat. Sedangkan materi yang disampaikan meliputi: laporan assessment cepat dan efektif, mitigasi bencana, menajemen posko, psikososial, serta simulasi pengelolaan kebencanaan.



Artikel Terkait
-
Through mistakes that you actually can grow.
Lorem ipsum dolor consectetur adipiscing eiusmod tempor
-
PKS Cianjur, Konsolidasi Pemenangan untuk Lepi dan Gilar
Sabtu, 14 November 2020, bertempat di kantor DPD PKS Cianjur, TPPW JABAR melakukan konsolidasi dengan TPPD PKS Cianjur...
-
Pemerintah Harus Beri Perhatian Khusus Bagi Pasien Long Covid-19
Jakarta - Covid-19 sudah menginfeksi lebih dari 4 juta penduduk Indonesia. Meskipun telah dinyatakan sembuh, sebagian penyintas Covid-19...