Dari Kandang Sapi Pak Junen, PKS Jabar Temukan Jawaban Ketahanan Energi Jawa Barat
Hampir dua dekade beternak sapi perah, Junen tidak pernah menyangka bahwa kotoran sapinya menyimpan lebih banyak nilai dari yang ia bayangkan. Hari ini, kandangnya di Desa Cirendang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, menjadi salah satu rujukan PKS Jawa Barat dalam membangun visi energi mandiri dari bawah.
Junen bukan orang baru di dunia peternakan. Hampir dua puluh tahun ia mengelola sapi perah — melanjutkan usaha yang dirintis orang tuanya, merawat apa yang diwariskan. Perlahan memahami sesuatu yang tidak diajarkan di bangku sekolah mana pun: bahwa seekor sapi perah menyimpan lima jenis kekayaan sekaligus.
Ia menyebutnya lima emas.
Emas putih adalah susu — hasil utama yang selama ini menjadi tumpuan pendapatannya. Emas merah adalah daging. Emas hitam adalah kotoran sapi yang selama ini dianggap limbah. Emas biru adalah biogas yang dihasilkan dari kotoran itu. Dan emas kuning adalah urin sapi yang ternyata bernilai sebagai bahan pupuk organik cair.
Lima emas dari dari satu ekor sapi.
Yang membuat filosofi lima emas Junen bukan sekadar kiasan adalah kenyataan bahwa ia sudah membuktikannya secara teknis dan ekonomis.
Dengan tiga dari sekitar 30 ekor sapi-nya, Junen mengumpulkan 50 hingga 60 kilogram kotoran setiap harinya. Kotoran dicampur dengan 50 liter air, kemudian dialirkan masuk ke dalam reaktor — sebuah instalasi yang terdiri dari inlet, digester, floating drum, outlet, dan pipa penyalur gas. Proses fermentasi anaerobik di dalam digester menghasilkan gas metana yang kemudian dialirkan langsung ke dapur sebagai bahan bakar memasak.
Hasilnya: 6 kubik gas per hari — cukup untuk 6 jam kebutuhan memasak sebuah keluarga. Hasilnya, jika dikembangkan dapat membantu pemerataan energi di pelosok desa.
Sisa fermentasi yang keluar dari outlet — yang dikenal sebagai bioslurry — bukan dibuang. Ia menjadi pupuk organik yang kualitasnya lebih baik dari pupuk kimia dan harganya nol rupiah. Di tengah mahalnya pupuk subsidi yang semakin sulit dijangkau petani kecil, ini bukan bonus kecil.
Kotoran yang tidak terpakai jadi pupuk organik. Tidak ada yang terbuang.
Tiga Ketahanan dalam Satu Sistem

Ketika Ketua Umum DPW PKS Jawa Barat, Abah Iwan, melihat apa yang dikerjakan Junen, ia melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar inovasi peternakan.
“Ada tiga ketahanan sekaligus di sini,” ujar Abah Iwan. “Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan semuanya bermuara pada ketahanan ekonomi — dari daging, dari pupuk bioslurry, dan dari biogas.”
Tiga ketahanan dalam satu sistem yang saling menopang. Bukan program terpisah-pisah yang membutuhkan anggaran masing-masing. Bukan proyek percontohan yang hanya hidup selama ada bantuan dari luar. Tapi sebuah ekosistem yang bekerja karena logika ekonominya masuk akal — dan karena ada manusia seperti Junen yang, dalam kata-kata Abah Iwan, “dengan keuletan, kesungguhan, dan keikhlasannya mau bercengkrama dengan sapi.”
Kata ikhlas yang disebut Abah Iwan bukan retorika. Beternak sapi perah adalah pekerjaan yang tidak mengenal hari libur, tidak mengenal jam kantor, dan tidak bisa dikerjakan setengah hati. Bahwa Junen melakukannya hampir dua dekade — dan dari kesetiaan itu lahir sebuah sistem yang hari ini menjadi rujukan — adalah bukti bahwa ketahanan sejati selalu dimulai dari komitmen yang diam-diam.
Bagi Budiwanto — anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan DPW PKS Jabar — kunjungan ke kandang Junen bukan sekadar silaturahmi.
“Ini adalah salah satu benchmark, khususnya untuk para petani,” ujar Budiwanto.
Benchmark. Kata yang dipilih Budiwanto bukan kebetulan. Ia berbicara sebagai legislator yang sedang mencari model — sesuatu yang sudah terbukti bekerja di lapangan dan layak untuk didorong menjadi kebijakan yang lebih luas.
Jawa Barat adalah provinsi dengan populasi sapi terbesar di Pulau Jawa. Jika model yang dijalankan Junen bisa direplikasi — dengan dukungan kebijakan yang tepat, akses teknologi yang terjangkau, dan pendampingan yang konsisten — maka potensi yang tersimpan di kandang-kandang yang tersebar di seluruh pelosok Jawa Barat adalah sesuatu yang belum pernah benar-benar dihitung secara serius.
PKS Jabar sedang menghitungnya.
Ada satu hal yang membuat model Junen berbeda dari program energi terbarukan yang biasa dicanangkan dari atas: ia tidak membutuhkan infrastruktur besar, anggaran jumbo, atau teknologi impor.
Yang dibutuhkan hanya reaktor sederhana dan kemauan untuk tidak memandang kotoran sebagai limbah.
Di sinilah relevansinya untuk Jawa Barat yang hari ini bergulat dengan tekanan ekonomi di pedesaan, mahalnya biaya produksi pertanian, dan ketergantungan pada energi subsidi yang semakin tidak pasti. Solusi yang paling berkelanjutan bukan yang paling canggih — tapi yang paling bisa dijalankan oleh orang biasa, dengan sumber daya yang sudah ada di tangan mereka.
Junen sudah membuktikannya selama hampir dua dekade.
Artikel Terkait
-
Dirikan Dapur Umum, PKS Karawang Distribusikan Makanan 3 Kali Sehari Kepada Korban Banjir
Banjir Karawang, DPC PKS Cikampek mendirikan dapur umum pada hari ahad, 7 Februari 2021, di lokasi yang banjirnya...
-
PKS Jabar Optimis Menangkan Pilpres 2024 dengan Target 80 Persen Suara
CIANJUR -- Dalam kegiatan halal bihalal di Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Minggu (28/05/2023) Ketua DPD PKS Kabupaten...
30 May 202378LikesBy titantitin -
Abah Iwan: Kader dan Pengurus PKS Jabar Terus Bergerak, Bersinergi untuk Kebaikan
Bandung – Ketua DPW PKS Jawa Barat, Iwan Suryawan atau yang akrab disapa Abah Iwan, mengapresiasi semangat seluruh...
17 September 202569LikesBy Noor Hafidz