Dari Manufaktur ke Green Job dan AI, Dunia Kerja Berubah Cepat — Ini yang Perlu Diketahui Angkatan Kerja
Bandung — Kompetensi yang relevan hari ini bisa kehilangan nilainya dalam tiga tahun ke depan. Digitalisasi, otomasi, dan transisi energi hijau sedang mengubah wajah dunia kerja Jawa Barat lebih cepat dari yang bisa diantisipasi — dan angkatan kerja yang tidak bergerak menyesuaikan diri akan tertinggal, bukan karena tidak mau bekerja, tapi karena skill yang mereka miliki tidak lagi dibutuhkan.
“Skill yang kita miliki hari ini belum tentu tiga tahun ke depan masih dibutuhkan. Maka, lakukan terus adaptasi — growth mindset, jangan fixed mindset,” ujar Reni Rosyidah Muthmainnah, Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung dalam Siniar Kopi Kerja yang disiarkan melalui PKS TV Jabar. .
Pergeseran itu sudah terjadi dan angkanya berbicara sendiri. Sektor manufaktur yang dulu menyerap hingga 70 persen tenaga kerja kini hanya membutuhkan sekitar 20 persen — sisanya digantikan mesin dan otomasi. Tapi bukan berarti lapangan kerja menyempit. Ia bergeser — ke empat sektor yang kini tumbuh paling cepat.
Digitalisasi membuka kebutuhan keterampilan baru di hampir semua lini, dari administrasi hingga produksi. Otomasi justru menciptakan permintaan baru: bukan lagi tenaga yang mengerjakan tugas rutin, tapi tenaga yang bisa mengoperasikan, memprogram, dan memelihara sistem yang menggantikan tugas itu.
Green job adalah yang paling mengejutkan pertumbuhannya — teknisi panel surya, mekanik kendaraan listrik, pengelola SPKLU, hingga bengkel motor listrik kini menjadi profesi yang kekurangan tenaga terampil. Dan AI serta bisnis berbasis data bukan lagi eksklusif milik perusahaan teknologi besar — ia sudah menjadi kebutuhan dasar di hampir semua sektor industri.
Namun, Reni menegaskan bahwa menguasai skill teknis saja tidak cukup. Ada satu hal yang lebih mendasar — dan justru sering menjadi titik lemah angkatan kerja muda hari ini. Asep Mulyadi, Ketua Bidang Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif (Boemkraf) DPW PKS Jawa Barat sekaligus Ketua DPRD Kota Bandung, menyebutnya dengan lugas.
“Di era yang perubahannya cepat, tidak linear, dan penuh ketidakpastian, ketangguhan mental dan kemauan untuk terus belajar alias adaptif adalah yang membedakan mereka yang bertahan dari yang tersisih. Skill bisa dipelajari, kompetensi bisa ditingkatkan — tapi adaptasi butuh proses untuk dibangun, dan tidak bisa dadakan,“ ujar pria yang akrab disapa Kang Asmul ini.
Empat sektor sudah teridentifikasi. Ekosistem pelatihan sudah tersedia — dan sebagian besarnya gratis. Komunitas wirausaha sudah terbuka untuk siapa saja yang ingin masuk. Yang dibutuhkan sekarang hanya satu: keputusan untuk mulai bergerak.
Simak diskusi lengkapnya dalam Siniar Kopi Kerja — Ngobrol Produktif di PKS TV Jabar, bersama Dr. Reni Rosyidah Mutmainah dari BPVP Bandung dan Asep Mulyadi dari Boemkraf DPW PKS Jawa Barat.
Artikel Terkait
-
DPR RI Gelar Senam Cegah Stunting Bersama BKKBN dengan Hadiah Utama Sepeda Motor
CIREBON – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menggelar Senam Cegah Stunting bersama BKKBN. Acara ini...
25 December 202286LikesBy titantitin -
Ketua BPKK DPW PKS Jabar Sambut Baik Terbentuknya FA Baru di Empat Kota/Kabupaten
BANDUNG -- Bidang Perempuan Ketahanan Keluarga (BPKK) PKS DPW PKS Jawa Barat menyambut baik terbantuknya Forum Ayah (FA)...
3 December 2022105LikesBy titantitin -
PKS Siapkan “KOPI PAHIT” untuk Pemenangan Pemilu 2024
BANDUNG - Siap menyambut pemilu 2024, PKS Kota Bandung mulai memanaskan mesin politik dengan menggelar Rapat Kerja Daerah...
28 March 202284LikesBy titantitin