Kang Haru: Pemimpin Tanpa Nilai adalah Bahaya yang Berjalan Noor Hafidz 29 June 2026

Sebuah peringatan yang jarang diucapkan sejujur ini — disampaikan di hadapan para calon pemimpin muda Jawa Barat.

Kekuasaan punya gravitasi sendiri. Ia menarik ke arah ego, bukan ke arah pelayanan. Dan jika seorang pemimpin tidak punya pijakan nilai yang cukup kuat, ia akan ikut terseret — pelan-pelan, tanpa sadar, sampai suatu hari ia menengok ke belakang dan tidak lagi mengenali dirinya sendiri.

Itulah peringatan yang disampaikan Haru Suandharu, Ketua Badan Pembinaan Pejabat Publik (BP3U) DPP PKS, di hadapan para calon pemimpin muda Jawa Barat dalam forum Jabar Next Future Leader yang digelar DPW PKS Jawa Barat di Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (27 Juni 2026) . Sebuah peringatan yang jarang diucapkan sejujur ini — bahwa ancaman terbesar seorang pemimpin bukan datang dari lawan politiknya, tapi dari bisikan di dalam dirinya sendiri.

Godaan yang Menyamar sebagai Semangat

Haru tidak memulai dengan teori kepemimpinan yang akademis. Ia memulai dengan sesuatu yang lebih jujur — pengakuan bahwa godaan itu nyata dan tidak pernah berhenti.

“Ketika seseorang mulai naik, mulai punya nama, mulai diperhitungkan — di situlah ujian sesungguhnya dimulai,” ujarnya.

Ambisi, kata Haru, adalah sesuatu yang manusiawi. Yang berbahaya adalah ambisi yang tidak dijaga — karena ia akan berubah menjadi nafsu. Dan nafsu kekuasaan adalah yang paling sulit dikendalikan justru karena ia menyamar sebagai semangat. Pelakunya sendiri sering tidak menyadarinya.

Arogansi pun tidak datang dalam semalam. Ia tumbuh pelan-pelan — dari kebiasaan kecil yang tidak dikoreksi, dari pujian yang terlalu sering diterima tanpa ada yang berani jujur di sekitarnya. Dan pada titik tertentu, seorang pemimpin yang kehilangan pijakan akan mulai merasa bahwa keputusannya tidak perlu dipertanyakan, bahwa posisinya adalah haknya, bahwa ia lebih tahu dari siapapun.

“Itu bukan kepemimpinan,” tegas Haru. “Itu tirani dalam kemasan yang rapi.”

Nilai Bukan Ornamen — Itu Syarat

Dari sinilah Haru masuk ke inti pesannya: bahwa kesabaran dan kerendahan hati bukan sekadar sikap baik yang mempercantik citra seorang pemimpin. Itu adalah syarat.

Sabar, dalam pemahaman Haru, bukan berarti diam ketika ada yang salah. Sabar artinya tidak reaktif, tidak mudah tersulut, tidak mengambil keputusan dari tempat emosi. Pemimpin yang sabar bisa berpikir jernih di tengah tekanan — dan tekanan itu, ia ingatkan, pasti datang. Dari atas, dari bawah, dari kiri dan kanan, bahkan dari orang-orang yang tadinya dipercaya.

Rendah hati pun bukan berarti tidak percaya diri. Rendah hati artinya seorang pemimpin tahu bahwa jabatan tidak menjadikannya lebih mulia sebagai manusia. Ia tetap bisa duduk semeja dengan siapapun. Ia tetap mau mendengar, meski dari orang yang paling kecil sekalipun.

“Karena seringkali, kebenaran justru datang dari tempat yang tidak kita duga,” ujarnya.

Kapasitas Dibangun, Bukan Ditunggu

Haru kemudian menyentuh sesuatu yang menurutnya sering disalahpahami oleh para kader yang ingin maju — soal kapasitas.

Terlalu banyak yang sibuk menghitung peluang menang-kalah sebelum benar-benar mempersiapkan diri. Padahal pemimpin yang kuat tidak lahir dari kalkulasi politik semata, tapi dari proses panjang membangun diri — membaca, berdiskusi, terjun langsung, salah, belajar, dan bangkit lagi.

“Membangun kapasitas tidak perlu menunggu momen yang tepat. Tidak perlu menunggu jabatan tertentu,” tegasnya. “Kalau seseorang sungguh-sungguh membangun dirinya, hasilnya tidak akan ke mana. Menang atau kalah dalam kontestasi adalah urusan waktu — tapi kapasitas yang sudah dibangun tidak bisa dicabut oleh siapapun.”

Jabatan Bukan untuk Digenggam Selamanya

Dengan nada yang lebih tajam, Haru berbicara tentang fenomena yang menurutnya menjadi tanda bahaya dalam ekosistem politik: jabatan yang terlalu lama digenggam.

Seorang wakil rakyat yang bertahan di kursi yang sama sampai tiga periode, kata Haru, bukan tanda ia sangat dicintai konstituen. Itu tanda ada yang tidak beres — regenerasi macet, kaderisasi mandek, atau ada kepentingan yang sedang dijaga.

“Kepemimpinan yang sehat harus menghasilkan pemimpin-pemimpin baru. Bukan mempertahankan satu orang selamanya,” ujarnya. “Pemimpin sejati tidak butuh kursi untuk merasa berarti.”

Pelayan yang Sungguh-sungguh

Haru menutup dengan definisi kepemimpinan yang sederhana tapi berat: pemimpin adalah pelayan. Bukan pelayan yang merendahkan diri secara palsu, tapi pelayan yang sungguh-sungguh menempatkan kepentingan yang dipimpinnya di atas kepentingannya sendiri.

Hormat, ia tegaskan, tidak bisa diminta dan tidak bisa dipaksakan lewat protokol dan seremoni. Ia tumbuh sendiri ketika orang melihat konsistensi antara kata dan kerja.

Dan soal motivasi — ini yang menurutnya paling perlu dijaga.

“Jangan berharap apapun dari siapapun. Kalau seseorang memimpin karena mengharapkan balasan, pujian, atau posisi berikutnya — maka pada hari balasan itu tidak datang, ia akan mulai berkompromi. Dan kompromi demi kepentingan pribadi adalah awal dari pengkhianatan.”


Haru Suandharu menyampaikan gagasan ini dalam forum Jabar Next Future Leader yang digelar Bidang Pelatihan dan Pengembangan Kepemimpinan Partai berkolaborasi dengan Bidang Kepemudaan DPW PKS Jawa Barat — sebuah program pembinaan calon pemimpin muda Jawa Barat dari PKS.

Mungkin Kamu Juga Suka

Artikel Terkait

Write a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Scroll