Bandung — Jawa Barat hari ini menghadapi tekanan serius pada institusi keluarga. Angka perceraian yang konsisten masuk tiga besar nasional, kasus stunting yang masih menghantui banyak kabupaten dan kota, hingga fenomena kekerasan dalam rumah tangga yang terus dilaporkan — semuanya adalah sinyal bahwa ketahanan keluarga sedang berada di titik kritis. Di tengah situasi ini, perempuan bukan sekadar korban — ia adalah kunci jawabannya. Namun potensi besar itu baru akan bermakna jika digerakkan bersama, bukan sendiri-sendiri.
“Ketahanan keluarga tidak akan terwujud jika perempuan bergerak sendirian. Kita perlu kompak, kita perlu bersatu lintas organisasi, karena tantangan yang kita hadapi terlalu besar untuk dipikul masing-masing,“ ujar Sari Sundari, ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BIPEKA) PKS Jawa Barat menggelar Saresehan Hari Kartini bertajuk “Kartini Bersinergi, Wujudkan Ketahanan Keluarga untuk Jawa Barat Istimewa” — sebuah seminar yang mempertemukan belasan organisasi perempuan lintas latar belakang dalam satu ruang konsolidasi, Rabu (29/4/2026), di Kantor DPTW PKS Jawa Barat, Bandung.
Ia menambahkan, Jawa Barat yang istimewa hanya akan lahir dari keluarga-keluarga yang kuat, dan kekuatan itu bermula dari perempuan yang sadar akan peran strategisnya.
Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah perceraian tertinggi di Indonesia selama bertahun-tahun. Ribuan keluarga retak setiap tahunnya, dan dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasangan suami istri — tetapi oleh anak-anak yang tumbuh dalam ketidakstabilan, komunitas yang kehilangan kohesi sosialnya, serta generasi yang kehilangan fondasi karakternya. Ironinya, di tengah besarnya potensi gerakan perempuan di Jawa Barat, energi itu masih berjalan terfragmentasi — masing-masing organisasi bergerak dalam koridornya sendiri.
“Inilah yang ingin kita ubah hari ini. Saresehan ini bukan sekadar acara, ini adalah titik berangkat gerakan bersama,” tegas Sari Sundari.
Perempuan masa kini bukan hanya ibu rumah tangga, bukan pula sekadar tenaga kerja atau aktivis publik. Ia adalah keduanya sekaligus — dan justru di situlah letak kekuatannya. Revitalisasi peran perempuan sebagai Kartini masa kini bukan berarti meninggalkan dapur untuk panggung — melainkan menjadikan keduanya sumber kekuatan yang saling menopang. Ketahanan keluarga adalah akar; kiprah publik adalah buahnya.
“Kartini sejati bukan yang memilih satu peran dan meninggalkan yang lain. Kartini sejati adalah ia yang mampu menjadi benteng keluarganya, sekaligus cahaya bagi masyarakatnya,“ ungkap Sari Sundari.
Saresehan hari ini bukan akhir dari sebuah peringatan — ia adalah awal dari sebuah gerakan. Ketika perempuan-perempuan Jawa Barat dari berbagai latar organisasi duduk dalam satu ruangan, berbagi perspektif, dan menyepakati satu semangat bersama, itulah modal sosial terbesar yang dimiliki Jawa Barat untuk menjawab krisis ketahanan keluarga.
“Kami berharap sinergi yang terjalin hari ini tidak berhenti di ruang seminar. Bawa pulang semangatnya, terapkan di komunitas masing-masing, dan jadikan keluarga kita benteng pertama Jawa Barat yang istimewa,“ pungkas Sari Sundari, menutup sambutannya dengan penuh harap.
Saresehan ini menghadirkan dua narasumber yang berbicara dari dua panggung sekaligus — legislasi dan lapangan. Ledia Hanifa Amaliah, anggota DPR RI yang dikenal konsisten memperjuangkan isu perempuan dan keluarga di tingkat nasional, hadir bersama Cucu Sugiarti, anggota DPRD Jawa Barat yang akrab dengan dinamika kebijakan daerah.
Seminar yang dihadiri sekitar 40 peserta ini mempertemukan tokoh-tokoh dari berbagai organisasi perempuan Jawa Barat, di antaranya PW Wanita Syarikat Islam, PW Salimah Jabar, PW Muslimat Al Wasliyah, Asosiasi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL) Jabar, ICMI Orwil Jabar, Perempuan ICMI Jabar, Wanita PUI Jabar, Alisa Jabar, ILDI, Muslimat Hidayatullah, Mujahidah Pembela Islam (MPI), komunitas Gowes Gosaka, Sekolah Perempuan Indonesia, hingga Harmoni TV.
Artikel Terkait
-
Catatan Sejarah: Mimpi tahun 1998 di Gasibu yang Jadi Kenyataan Sepuluh Tahun Kemudian
Oleh: Soenmandjaja Roekmandis* Sekejap menerawang ke kenangan 24 tahun yang lalu, kala awal Partai Keadilan (PK) dibentuk, Kantor...
8 August 202254LikesBy titantitin -
Sebanyak 20 Warga Jabar Terpapar Omicron, Iwan Suryawan Ingatkan Pemprov Tetap Waspada
Secara resmi Gubernur Jawa barat Ridwan Kamil mengumumkan bahwa 20 warga Jawa barat yang baru datang dari luar...
5 January 202277LikesBy titantitin -
DPD PKS Kabupaten Bekasi Ikut Bagikan Paket 1,7 Juta Sembako ke Masyarakat
Program 1,7 Juta Paket Sembako untuk masyarakat terdampak Covid-19 terus berlangsung di berbagai daerah. Salah satunya dilakukan oleh...